Kamis, 29 November 2012
ISLAM APAKAH ANDA ??????
aku pernah di tanya seorang teman NON MUSLIM kepadaku ????
(+) islam yang mana yang kau yakini ?????
(-) aku menjawab islam yang diyakini oleh ayahku !!
(+) islam yang mana??? Sunni Atau Syiah ?????
(-) iman Ayahku adalah Iman yang seIman dengan Imam Ali...!!! yang percaya Allah, menyakini Nabi sbg UtusaNya.
...
(+) siapa itu Imam ALI ???
(-) Dia anak yang lahir didalam Kabah...Dialah yang dididik oleh Nabi sejak kecil...dialah yang ketika disuapin makan, makanan itu terlebih dahulu didinginkan dalam mulutnya Nabi....Dialah pemudah yang pertama Sholat berjamaah bersama Nabi... Dia tak pernah meninggalkan Sholat sekalipun dimedan perang.....Dia yang Tak meninggalkan medan pertempuran ketika perang BADAR...Dialah yang mendampingi Nabi disaat wafatnya Nabi...itulah dia SAIDINA ALI BIN ABI THALIB yang menikahi Fatimah Az Zahra Binti Muhammad SAW yang menghadirkan HASAN dan HUSAYN dan dari HUSAYN lah REVOLUSI KARBALA ada !!!!!!!!!!!!!!!!!!
(+) jadi Islam yang mana yang kau yakini ????????
(-) Islam yang CINTA RASUL dan AHLIL BAIT.
(+) bingung saya.....!!!!!!!!!!
(+) ahlil Bait itu keluarga nabi.
(-) mengapa harus cinta keluarga Nabi juga ???
(+) Firman Allah dalam Alquran 'Katakanlah [Muhammad], ‘Aku tidak meminta balasan dari kalian kecuali kecintaan kalian kepada keluargaku.’
jadi siapa yang mengaku CINTA kepada Nabi Cinta juga dia kepada Keluarga Nabi !!!!!!
(-) ohh...saya mengerti....!!!!!!
(+) oia bro aku perna mendengar KATA KARBALA ceritakan sedikit tentang KARBALA itu kepadaku, namun jika cerita itu tak seharusnya kau ceritakan tidak perlu diceritakan !!!!!!!!!!!!!!!
(-) tidak bro.....jika ada yang bertanya pada tentang KARBALA dan jika saya tau dan saya tidak ceritakan/sembunyikan cerita itu maka tempatku adalah neraka....karna telah sembunyikan suatu sejarah tentang pepecahan umad islam saat itu ........!!!!!!!!!!!!
(+) pepecahan Umat Maksudnya ??????
(-) setelah sepeninggalanya Nabi Umat Islam mengalami perpecahan yang sangat besar !!!!!!
(+) Apa penyebabnya ?????
(-) Penyebabnya Perebutan Kekuasaan/kepemimpinan umat islam
(+) nabi kamu kan pandai?? kenapa dia tidak menunjukan org untuk mengantikan sebelum Nabi wafat???
(_) jauh sebelum nabi wafat nabi suda bicarakan itu melalui ucapannya dikalangan sahabat dan pengikutnya!!! “Barangsiapa meyakini dan mempercayaiku, maka BERWILAYAH-lah kepada Ali” ada juga firman yang diriwayatkan oleh Muslim,Al-Tirmidzi,Al-Hakim,Ahmad Musnad,Al-Nisa’i,Asadul-Ghaba, bahwa Ali berhak atas umat ini, seperti hak ayah atas anaknya.”
(+) jadi siapa yang mengantikan Nabisetelah wafat????
(-) 1. Abu Bakar syiddik
2. Umar Bin Khatab
3. Usman Bin Afan
4. Ali bin Abu Thalib
5. Hasan BIn Ali
(+) lho kenapa Ali bin Abi Thalib ada pada urutan ke 4 ????
bukankah Dia yang telah ditunjukan oleh Nabimu untuk mengantikanNya sebagai pimpinan???????
(-) itulah yang saya maksudkan perpecahan umat Islam di awali !!!!!!!!!!!!!
(+) oh.......baiklah Ceritakan Saja KARBALA kepadaku !!!!!!
oke lah temanku..........!!!!!!!!! Biarpun kita tak sesama AQida Tapi ini kewajibanku Untukku untuk menceritakan kepadamu !!!!!!!!!!!!!
KARBALA
jika berbicara tentang sejarah berbicara tentang KAPAN DIMANA DAN SIAPA ??????
jika berbicara kapan menunjukan WAKTU terjadinya sejarah
jika berbicara dimana menunjukan TEMPAT Terjadinya Sejarah
jika berbicara Siapa menunjukan Pelaku SEJARAH
KARBALA terjadi pada tgl 10 Muharram 61 H atau tanggal 10 Oktober 680 M KARBALA adalah salah satu tempat padang yang luas yang letaknya berada pada daerah IRAK
Pertempuran ini terjadi antara pasukan Bani Hasyim yang dipimpin oleh Husain bin AliBani Umayyah yang dipimpin oleh Ibnu Ziyad,
atas perintah Yazid bin Muawiyah, khalifah Umayyah saat itu.
Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib dan para pengikutnya yang berjumlah 72 orang diantaranya 32 penunggang kuda
40 pejan kaki
dipaksa bertahan dan melawan serangan dari Ibnu Ziyad.
Sebenarnya Huseyn tau akan kematiannya dipadang karbala sebab pada saat perjalanan tersebut Zainab(bibi husayn/saudanya ali bin ubi thalib) mengarahkan husen agar ke madina namun husen menolaknya..zainab berkata ya husayn engkau akan dibunuh dipadang karbala janganlah engkau kesana !!!!!!
Husayn menjawab bibiku jika hari ini aku tak kesana esoki pasti kesana...maka biarkan kematianku ini sebagai REVOLUSI PEMERSATU UMAT ISLAM.
Memang. Apalah arti tiga puluh dua penunggang kuda dan empat puluh orang pejalan kaki, dibanding empat ribuan orang pasukan musuh. Satu persatu anggota pasukan kecil itu tumbang sebagai syahid. Dan ketika matahari mulai tergelincir ke barat, hanya tinggal beberapa orang saja yang tersisa, berjuang membela harga diri, kehormatan dan kebenaran yang mereka yakini.
Padang tandus itu masih mengepulkan debunya ke udara. Tak hanya pengap gurun yang tercium, udara ditepian sungai Eufrat siang itu juga mulai menebarkan bau amis darah.
Siang itu, terik mentari padang pasir menjadi saksi sebuah peristiwa kelam yang terus dikenang hingga saat ini, Perang Karbala. Perang, yang terjadi antara Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib dan para pengikutnya melawan tentara Dinasti Umayyah yang dipimpin Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash dan Syimar bin Dziljausyan, itu nyaris memusnahkan keturunan Rasulullah dari garis Al-Husain. Konon, pertempuran tak berimbang yang tak ubahnya pembantaian itu sudah diramalkan Nabi Muhammad SAW di hari Al-Husain lahir.
Dikisahkan, 57 tahun sebelumnya, ketika mendengar Fatimah Az-Zahra telah akan melahirkan putra keduanya, Rasulullah segera bergegas menjenguknya. Tak lama kemudian tangis sang jabang bayi pun pecah. Tangis itu sangat keras, sekokoh hati pemiliknya. Nabi Muhamad lalu meminta cucunya itu dibawa ke pangkuannya untuk dibacakan adzan dan iqamah.
Asma binti Umais, sahabat Anshar yang membantu Fatimah saat melahirkan, segera menggendong bayi merah itu dan menyerahkannya kepada Baginda Nabi. Setelah diadzani dan diiqamati, sang jabang bayi lalu diberi nama Al-Husain, semakna dengan nama sang kakak yaitu Al-Hasan yang berarti kebajikan.
Ketika tengah asyik menciumi sang cucu, tiba-tiba Nabi termangu dan meneteskan air mata. Umais pun segera bertanya, “Mengapa di hari bahagia ini Anda menangis, wahai Rasulullah?.”
“Jibril baru saja memberitahu kepadaku, kelak anak ini akan dibunuh oleh sebagian umatku yang durhaka. Jibril juga menunjukkan tanah di mana Al-Husain terbunuh.”
Ibnul Atsir, dalam tarikh Al-Kamilnya, menceritakan, Nabi pernah memberikan segumpal tanah berwarna kekuningan kepada Ummu Salamah, salah satu istri beliau, yang didapat dari Malaikat Jibril. Tanah tersebut, menurut kabar dari Jibril, berasal dari daerah di mana Al-Husain akan terbunuh dalam sebuah pertempuran.
Nabi berpesan kepada Ummu Salamah, “Simpanlah tanah ini baik-baik. Bila warnanya berubah menjadi merah, ketahuilah bahwa Al-Husain telah meninggal dunia karena dibunuh.”
Dan, tepat pada tanggal 10 Muharram 61 H, Ummu Salamah menyaksikan gumpalan tanah pemberian suaminya berubah warna menjadi merah. Tahulah ia, cucu kesayangan Rasulullah itu telah meninggal dunia. Ummu Salamah adalah orang pertama di Madinah yang mengetahui perihal kematian Al-Husain. Dari mulutnya pula berita duka itu menyebar ke segenap penjuru kota dan menggemparkannya.
Perang Karbala’ adalah tragedi terbesar kedua dalam sejarah Islam setelah beberapa perang saudara pada masa pemerintahan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, yakni Perang Jamal, yang menghadapkan Ali bin Thalib dengan Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam dan Aisyah Ummul Mukminin, dan Perang Shiffin, antara tentara Khalifah Ali bin Abi Thalib dengan kubu Mu’awiyah bin Abu Sufyan.
Sebagaimana perang saudara sebelumnya, Perang Karbala juga menghadapkan dua tokoh generasi kedua Islam yang merupakan putra sahabat-sahabat terdekat Nabi, Al-Husain putra Sayyidina Ali dengan Umar putra Sa’ad bin Abi Waqash yang mewakili Yazid bin Muawiyyah dan gubernurnya di Kufah, Ubaidullah bin Ziyad.
Matahari terus bergerak ke arah barat. Menyadari pasukan musuh sama sekali tak berniat menghentikan pertempuran, bersama sisa pengikutnya Al-Husain pun mendirikan shalat khauf, shalat darurat di tengah medan perang. Di antara mereka tampak adik tirinya, Abbas; putra kedua Al-Husain, Ali Al-Akbar; dan kemenakannya, Qasim bin Hasan bin Ali. Bergantian mereka melaksanakan ruku’ dan sujud, sementara yang lain berusaha melindungi dengan pedang dan tombak.
Matahari semakin menyengat ketika shalat khauf usai. Kembali Imam Husain dan para pengikutnya berjuang mempertahankan diri. Dan kembali, satu persatu anggota pasukan kecil itu berguguran, hingga akhirnya tinggal Al-Husain, Ali Al-Akbar bin Al-Husain, dan Abbas saja yang tersisa.
Dengan gagah berani Ali Akbar menerjang musuh dan berhasil menumbangkan tiga atau empat orang musuh sebelum sebuah sabetan pedang membuatnya terluka parah. Ia mundur mendekati sang ayah karena merasa sangat kehausan. Namun sejak pagi, persediaan air rombongan Al-Husain telah habis. Sementara untuk mengambil dari sungai Eufrat yang tak seberapa jauh juga tak memungkinkan, karena ribuan tentara Umayyah berbaris menjaganya.
Dengan wajah iba Al-Husain menentramkan putranya, “Bersabarlah anakku, sebelum petang Datukmu Rasulullah SAW akan datang untuk memberimu minum dengan kedua tangan beliau yang mulia.”
Mendengar ucapan sang ayah yang menjanjikan kesyahidan, semangat Ali Akbar kembali tersulut. Ia segera kembali ke tengah pertempuran dan menumbangkan dua atau tiga lawan. Langkah pemuda pemberani terhenti ketika sebatang anak panah menembus lehernya. Ali Akbar menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuang sang ayahanda.
Tiba-tiba dari dalam tenda seorang perempuan menghambur keluar dan berlari menuju Imam Husain yang tengah memangku jasad Ali Akbar. Tangisnya pecah saat memeluk jenazah kemenakan tercintanya. “Terkutuklah orang-orang yang telah membunuhmu, Anakku,” raung Zainab binti Ali, adik kandung Al-Husain. Kematian Ali Akbar menggenapkan dukanya setelah sepagian melihat tiga putranya Aun Al-Akbar, Muhammad dan Ubaidullah gugur di medan perang Karbala’.
Al-Husain, sambil membawa jenazah Ali Akbar, segera menarik adiknya kembali ke tenda. Tiba-tiba dari arah belakang kemudian terdengar teriakan seorang bocah kecil, “Hai orang jahat! Kau mau membunuh pamanku?.”
Dengan berani anak itu menghadang laju seorang prajurit Umayyah yang akan membokong Al-Husain. Di tangannya tergenggam sebatang tongkat kayu. Sejurus kemudian Qasim bin Hasan bin Ali, demikian nama anak yang baru menginjak remaja itu, menjerit karena seorang tentara musuh menebas putus tangan mungilnya.
Al-Husain segera meraih remaja yang mewarisi ketampanan ayahandanya itu. Dengan lembut ia berbisik di telingan kemenakan kecilnya, “Tabahkan hatimu, anakku sayang. Allah akan segera mempertemukanmu dengan ayah dan kakekmu.”
Kini hanya tersisa Al-Husain dan adik tirinya Abbas bin Ali. Penatnya bertempur seharian dan teriknya matahari siang membuat dahaga keduanya tak tertahankan lagi. Mereka pun nekat menerobos barisan tentara Umayyah yang menjaga tepian sungai Eufrat. Berhasil. Dengan tergesa keduanya menciduk air dengan kedua telapak tangannya.
Namun sebelum dahaga itu terobati, hujan anak panah membuat Abbas rebah tak bangun lagi. Sebatang anak panah juga menghujam pipi Al-Husain. Dengan pilu dicabutnya anak panah dan menutup lubangnya dengan telapak tangan. Kepala suami Syahbanu, putri kerajaan Persia, itu kemudian tengadah dan berdoa, “Ya Rabb, hanya kepada-Mu aku mengadu. Lihatlah perlakuan mereka terhadap cucu rasul-Mu.”
Matahari telah condong di ufuk barat. Waktu Ashar yang telah datang menjelang menjadi saksi Al-Husain yang tinggal berjuang sendirian. Wajahnya nampak lelah, meski tak mengurangi sorot keberaniannya, dan sekujur tubuhnya dipenuhi luka senjata.
Puluhan anggota pasukan Umayyah mengurungnya. Namun seperti tersihir, tak satupun yang berani mengayunkan pedang ke arah Imam Husain. Nampaknya ada keraguan yang menyelimuti benak masing-masing pasukan. Mereka tengah menimbang, “Beranikah menanggung resiko menjadi orang yang menghabisi nyawa cucu Rasulullah?.”
Sementar Al-Husain, dengan segala kewibawaan dan harga diri yang diturunkan ayah dan kakeknya, berdiri di tengah-tengah dengan pedang teracung. Ia berseru lantang, “Apa yang membuat kalian ragu membunuhku. Majulah. Demi Allah, tidak ada pembunuhan yang lebih dibenci Alah dari pada pembunuhanku ini. Sungguh Allah akan memuliakanku, dan menghinakan kalian.”
Melihat Al-Husain sendirian di tengah kepungan musuh, Zainab –yang belakangan di kenal sebagai Bathalah Karbala, pahlawan Karbala—berseru, “Mudah-mudahan langit ini runtuh.” Ketika itulah Umar bin Sa’ad, sang panglima tentara Umayyah, melintas. Zainab pun memanggilnya, “Hai Umar, tega sekali kau melihat Husain dibunuh di depan matamu.” Umar tertegun, matanya nampak berkaca-kaca, namun ia segera berlalu.
Tiba-tiba Syimar Dzil Jausyan mendekati kepungan. Melihat anak buahnya tak ada yang berani menyerang al-Husain, ia pun membentak, “Terkutuk kalian semua! Apa yang kalian tunggu? Cepat bunuh dia! Khalifah akan memberikan hadiah yang besar bagi kalian.”
Bentakan itu seakan membangunkan mereka dari mimpi. Zara bin Syarik mengayunkan pedangnya hingga memutuskan lengan kiri Al-Husain. Masih dalam keadaan limbung, tombakan Sinan bin Nakhi merobohkan tubuh cucu baginda Nabi itu ke tanah. Melihat teman-temannya masih diam tertegun, Sinan segera turun dari punggung kudanya dan memenggal kepala Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib. Al-Husain wafat pada tanggal 10 Muharram 61 H, lima puluh tujuh tahun setelah Rasulullah mendapat kabar kematiannya dari Malaikat Jibril.
Tak cukup puas, serdadu-serdadu yang sudah kesetanan itu lalu menjarah benda berharga yang melekat pada mayat-mayat pejuang pembela Al-Husain dan merampok barang bawaan di tenda-tenda rombongan Ahlul Bait. Saat itulah Syimar menemukan Ali Asghar, putra Al-Husain, yang sedang terbaring sakit di dalam tenda dengan ditemani bibinya, Zainab. Lelaki biadab itu pun bermaksud menghabisi Ali Ashgar, kalau saja Zainab tidak mati-matian mempertahankannya.
Sambil memeluk keponakannya, wanita pemberani itu berteriak, “Apa akan kau bunuh juga anak yang sedang sakit ini?.”
Syimar ragu-ragu sejenak sebelum memilih untuk meninggalkannya. Mungkin ia berpikir, tanpa dibunuh pun anak yang sedang sakit itu akan mati sendiri, karena kehabisan bekalan makanan, minuman dan obat-obatan. Namun siapa yang tahu rahasia Allah? Justru dari anak yang nyaris terbunuh itulah keturunan Al-Husain kemudian dapat berlanjut hingga saat ini.
(-) mungkin itulah kisahnya KARBALA yang saya gambarkan secara umum namun jika anda (temanku) tertarik dengan cerita yang lebih lengkap anda bisa membaca BUKU yang berjudul SAQIFAT : Awal Perselisihan Umat/penerbi RausyanFikr/pengarang O.Hashem... anda akan mendapatkan sejarah yang lengkap tentang KARBALA ini... namun ending dari sejarah ini dengan Kematian Husayn Bin Ali maka umat islam bersatu untuk melawan pemerintahannya ZAID BIN UMAYYAH dari ketidak sewenang2 dalam pemerintahannya !!!!!!!!!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar